Resensi Sungai dari Firdaus, Richard Dawkins

Sungai dari Firdaus

Dan sebatang sungai mengalir dari Firdaus untuk mengairi taman itu.

-Kejadian 2:10

Identitas Buku Sungai dari Firdaus

Judul: Sungai dari Firdaus: Suatu Pandangan Darwinan tentang Kehidupan (River Out of Eden: A Darwinian View of Life)

Penulis: Richard Dawkins

Penerbit: KPG Jakarta

Cetakan Kedua: April 2019

Tebal: xiv + 202 hlm

Piet Hein pernah berkata, “Alam, tampaknya, merupakan nama akrab untuk bermilyar-milyar-milyar partikel yang secara niskala bermain biliar-biliar-biliar.” Piet Hein mampu mengungkapkan sosok dunia fisika murni dan asali yang klasik itu. Namun ketika pantulan-pantulan biliar atomik secara kebetulan menimbulkan sesuatu yang tampak polos, terjadilah peristiwa yang sangat penting di alam semesta. Sifat itu adalah kemampuan menggandakan diri sendiri (self-replicate); artinya, sesuatu itu mampu menggunakan materi di sekitarnya untuk membuat salinan persis sama dengan dirinya, termasuk salinan kesalahan-kesalahan kecil yang bisa terjadi dalam proses penyalinan.

Salah satu tujuan Richard Dawkins menulis buku ini adalah memberi pengakuan yang pantas terhadap kemampuan mengilhami yang terkandung dalam pengertian modern kehidupan versi Darwin ini. Hal ini karena ciri kehidupan yang paling memukau siapapun yang pernah memikirkannya adalah kerincian rumit yang jadi sarana bagi mekanisme-mekanisme –mekanisme-mekanisme yang oleh Charles Darwin disebut “organ-organ yang teramat sempurna dan muskin” (“organs of extreme perfection and complication”)- untuk mencapai apa yang tampak seolah-olah merupakan tujuan.

Dengan satu dan lain cara, semua buku Richard Dawkins ditujukan untuk menguraikan dan menjajaki kekuatan teori Darwinan yang tak habis-habis –kekuatan yang menghempas kapan saja dan di mana saja ada cukup waktu untuk berkembangnya serba akibat penggandaan diri yang asali itu.

Penyempurnaan Diam-Diam

X pasti telah dirancang oleh sang Pencipta, karena separuh X takkan jalan sama sekali. Semua bagian X pasti telah disiptakan sekaligus; tidak mungkin berkembang lambat-laun.

-Kreasionis

Salah satu hal yang dibahas Richard Dawkins dalam Sungai dari Firdaus adalah tentang penyempurnaan diam-diam. Kreasinosme punya daya tarik kuat, dan alasannya gampang ditebak. Alasan itu adalah bahwa orang menemukan sendiri keindahan dan kerumitan dunia yang hidup ini dan menyimpulkan bahwa “jelas dengan sendirinya” dunia tersebut mesti sudah dirancang.  Contoh, pada hari saat Richard Dawkins menulis bab ke-3 dalam buku Sungai dari Firdaus ini, Richard Dawkins kebetulan menerima sepucuk surat. Surat itu berasal dari seorang pendeta Amerika yang tadinya seorang ateis tapi kemudian bertobat setelah membaca 1 artikel dalam National Geographic.

Tentunya orang sampai ke agama lewat jalan yang berbeda-beda, tapi pastilah banyak orang telah mendapat pengalaman yang serupa dengan yang mengubah hidup pendeta ini (yang identitasnya Richard Dawkins rahasiakan saja). Dimana yang dijadikan contoh oleh pendeta tersebut adalah kesempurnaan anggrek untuk berkembang biak dengan bekerjasama dengan tawon. Kunci argumen pendeta tersebut terletak di penegasan bahwa “agar bisa berhasil, strategi pembiakan seperti itu harus sempurna sejak semula. Keberhasilan itu tak mungkin terwujud berkat rangkaian langkah yang bertahap.”

Yang selalu membuar Richard Dawkins terkesan bila mendengar argumen semacam ini adalah rasa yakin ketika pernyataan itu dikemukakan. Hal inilah yang ingin Richard Dawkins tanyakan kepada si pendeta, bagaimana Anda bisa begitu yakin bahwa anggrek yang tampak seperti tawon (atau mata, atau apa saja) tidak akan berfungsin kecuali jika semua bagian-bagiannya sempurna dan tersusun di tempatnya?

Hewan-hewan yang Dikibuli

Richard Dawkins kemudian menyebutkan contoh-contoh kemiripan yang timbul secara kebetulan akan tetapi dapat mengecoh makhluk hidup. Para laki-laki terangsang dengan gambar-gambar dalam majalah. Gambar itu hanyalah tinta cetak di atas kertas. Sifatnya dua dimensi, bukan tiga. Tingginya hanya beberapa inci. Gambar itu bisa dianggap sekadar karikatur dengan beberapa garis, bukan tampilan yang mirip dengan aslinya. Namun demikian, gambar itu tetap dapat membangkitkan nafsu laki-laki sampai ereksi.

Ikan punggung-duri (stickleback) mudah ditipu; camar, angsa, dan burung-burung lain yang bersarang di darat juga mudah ditipu dengan sebutir telur yang tergulir keluar dari sarang; burung yang mudah ditipu oleh dua orang yang bersembunyi; dan kalkun yang salah mengenali anaknya sendiri dan menganggapnya sebagai pemangsa. Padahal hewan-hewan tadi memiliki otak yang lebih kompleks daripada serangga.

Richard Dawkins menjelaskan betapa mudah tertipunya seekor lebah madu. Jika peneliti mengoleskan setetes asam oleat ke lebah hidup, maka lebah malang yang dioles, walaupun masih menendang-nendang dan meronta serta jelas-jelas masih hidup, akan diseret oleh yang lain untuk dibuang bersama lebah yang mati. Kita dapat mengibuli kupu-kupu jantan dengan lampu stroboskopis, yang tidak bergerak tapi hanya menyala mati-hidup.

Tawon gangsir betina dapat dikibuli dengan memindahkan mangsanya beberapa inci jauhnya bahkan namanya diabadikan dalam istilah komputer, sphexish, karena ia mudah dikibuli. Ada juga tawon gangsir pemburu lebah, Philanthus, yang dikibuli dengan memindahkan penanda di sekitar liangnya. Selain itu, spesies tawon gangsir, Ammophila campestris, dapat dikibuli karena spesies tersebut tidak mengecek kondisi larva yang ada di dalam liang sebelum memberinya makan.

Di satu sisi, kisah-kisah yang disebutkan Richard Dawkins di atas menunjukkan bahwa dalam kepala tawon terdapat peralatan canggih untuk mencacah, mengukur, bahkan menghitung. Namun di sisi lain, kisah tersebut menyiratkan adanya sifat buta selektif dan sifat rentan terhadap tipuan. Tujuan Richard Dawkins menyebutkan contoh-contoh di atas sebenarnya untuk menyerang argumen yang menyatakan: “evolusi gradual ini dan itu mustahil terjadi, karena ini dan itu ‘jelas dengan sendirinya’ harus sempurna dan lengkap agar bisa berfungsi. Padahal nyatanya tidak demikian.

Komentar terhadap Isi Buku Sungai dari Firdaus

Dalam buku ini, Richard Dawkins dengan kemahirannya bertutur yang sudah tidak asing lagi, yang tidak jarang memicu senyum geli, menjelaskan mekanisme evolusi dengan jernih dan indah. Dan seperti yang dilansir New York Times Book Review, Dawkins, di atas segalanya, adalah seorang pemapar ulung, penulis yang memahami dengan begitu jernih soal-soal yang ia kemukakan sehingga pembaca juga terdorong memahaminya. Hal itu terjadi juga di dalam buku ini, Richard Dawkins menjelaskan mekanisme evolusi yang terjadi pada tingkat gen dengan mengkiaskannya terhadap aliran sungai.

Aliran sungai tersebut berisi informasi genetis yang mengalir melalui lintas generasi. Air dalam sungai tersebut kadang terpisah dan kadang bertemu lagi. Aliran sungai tersebut kadang kala juga bercabang membentuk sungai baru yang terpisah. Aliran sungai tersebut memang bisa menjelaskan bagaimana evolusi bisa terjadi secara perlahan. Akan tetapi, Richard Dawkins tidak menjelaskan bagaimana yang mekanisme evolusi yang berlangsung cepat padahal Richard Dawkins sendiri mengakui bahwa evolusi kadang berlangsung cepat. Hal itu sebagaimana yang dikatakannya dalam bukunya bahwa bisa saja beberapa tahap evolusi berlangsung dengan mendadak. Akan tetapi, Dawkins tidak mau menggambarkan kejadian tersebut dalam permisalan Sungai dari Firdaus. Alhasil, buku ini terasa kurang memuaskan sebagaimana teori evolusi pada umumnya ketika menjelaskan tentang ketiadaan misssing link.

Sungai dari Firdaus
Contoh Isi Buku

Kesimpulan

Sungai dari Firdaus walaupun bisa menjelaskan mekanisme evolusi yang berlangsung secara gradual dan membutuhkan waktu lama, akan tetapi kesulitan menjelaskan mekanisme evolusi yang berlangsung mendadak.

Rating: 3/4 (Bagus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *