Resensi The Grand Design: Rancang Agung

Rancang agung

Sekilas tentang The Grand Design (Rancang Agung)

Judul: The Grand Design (Rancang Agung)

Penulis: Stephen W. Hawking dan Leonard Mlodinow

Penerbit: GPU Jakarta

Cetakan ke-4: Juli 2018

Tebal: 202 hlm

Mengapa ada sesuatu, bukan ketiadaan?

Mengapa kita ada?

Mengapa ada kumpulan hukum alam tertentu, bukan yang lain?

Itulah Ultimate Question of Life, the Universe, and Everything. Pertanyaan Pamungkas perihal Hidup, Alam Semesta, dan Segalanya. Pertanyaan yang akan Stephen W. Hawking coba jawab dalam buku ini. Mengapa pertanyaan itu ada? Simpelnya, Masing-masing kita ada hanya sekejap saja, dan sepanjang keberadaan itu kita hanya menjelajahi sebagian mahakecil dari keseluruhan alam semesta. Selagi hidup di dunian nan luas yang kadang asih kadang zalim, dan memandang angkasa raya di atas sana, manusia selalu menontar selaksa tanya, pertanyaan sebagaimana yang tertulis di kalimat awal. Secara tradisional, semua yang tadi adalah pertanyaan filosofi, yang menurut konsep ini pula, benda bergerak sepanjang jalur yang tertera jelas dan punya sejarah yang tentu. Tapi konsep ini sudah mati. Konsep ini tak dapat menerangkan perilaku ajaib yang teramati pada skala keberadaan atom dan sub-atom. Sebaliknya, diperlukan kerangka berbeda, bernama fisika kuantum.

Teori-teori kuantum bisa dirumuskan dalam berbagai cara, namun penjabarannya yang paling intuitif diberikan oleh Richard (Dick) Feynman, sosok kaya nuansa yang berkarya di California Institute of Technology dan bermain drum bongo di tempat pertunjukan tari tanggal baju yang terletak di jalan yang sama. Memang, sebagaimana banyak pendapat dalam sains hari ini, tampaknya gagasan Feynman tersebut melanggar akal sehat. Hal ini karena awalnya kita percaya bahwa segala pengetahuan di dunia dapat diperoleh melalui pengamatan langsung; bahwa segalanya adalah sebagaimana adanya, seperti diserap panca indra kita. Tapi boleh jadi ada macam-macam cara agar kita bisa membuat model situasi fisik yang sama, masing-masing menggunakan unsur dasar dan konsep yang berbeda-beda.

Dalam sejarah sains, kita telah menemukan serangkaian teori atau model yang kian lama kian baik, dari Plato ke teori klasik Newton saampai teori kuantum modern. Akankah urut-urutan  ini kelak mencapai ujung akhir, ataukah kita akan terus menemukan teori-teori yang lebih baik lagi? Jika jawabannya adalah pernyataan pertama maka itu adalah Teori-M. Teori-M bukan teori dalam pengertian biasa. Teori-M adalah kumpulan aneka teori, yang masing-masing merupakan penjabaran pengamatan yang baik dalam kisaran situasi fisik tertentu saja.

Melalui teori inilah penulis melalui buku ini akan menjabarkan bagaimana teori-M mungkin menawarkan jawaban untuk persoalan penciptaan. Teori-M sebagai sang Rancang Agung. Karena untuk memahami alam semesta hingga tingkat terdalam, kita bukan hanya perlu tahu bagaimana tingkah laku alam semesta, melainkan juga mengapa.

Hal paling tak dapat dimengerti mengenai alam semesta adalah bahwa ia dapat dimengerti.

-Albert Einstein

Teori-M Kandidat Sang Rancang Agung

Dalam buku Rancang Agung ini dijelaskan bahwa alam semesta dapat dimengerti karena diatur hukum-hukum sains; artinya, perilakunya dapat digambarkan dengan model. Aspek alam semesta yang ditemukan hukum atau modelnya pertama kali adalah gravitasi. Kemudian, hukum atau model alam semesta yang ditemukan berikutnya adalah listrik dan magnetik. Setelah itu, baru ditemukan gaya nuklir lemah dan kuat.

Gaya pertama yang mendapat versi kuantum adalah elektromagnetisme yang dikembangkan pada tahun 1940-an oleh Richard Feynman dan lain-lain dalam bentuk diagram Feynman.

Diagram Feynman
Diagram Feynman. Diagram-diagram ini menggambarkan proses ketika dua elektron saling memencarkan

Pada tahun 1967 Abdus Salam dan Steven Weinberg secara terpisah mengajukan 1 teori yang mempersatukan elektromagnetisme dan gaya lemah. Kemudian sebagian besar ahli fisika menggunakan teori sementara yang disebut model standar (standard model), yang terdiri atas teori elektromagnetik dan gaya lemah yang sudah dipersatukan dan QCD sebagai teori gaya kuat. Pada tahun 1976 ditemukan satu kemungkinan cara menggabungkan gravitasi dengan ketiga gaya lain. Namanya supergravitasi (supergravity).

Teori yang lebih mendasar dari itu disebut teori-M, seperti yang sudah disebutkan. Baik teori-M ada sebagai rumusan tunggal maupun sekadar jejaring, teori-M mempunyai beberapa sifat. Pertama, teori-M punya 11 dimensi ruang dan waktu, bukan sepuluh. Selain itu, teori-M tak hanya bisa berisi dawai bergetar tapi juga zarah titik, lembar 2 dimensi, gumpalan 3 dimensi, dan benda-benda lain yang lebih sukar dibayangkan dan menempati maikn banyak dimensi ruang, sampai 9.

Bagaimana dalam banyaknya cara menggulung dimensi? Dalam teori-M dimensi-dimensi ruang tambahan tak bisa digulung dengan sembarang cara. Oleh karena itu, hukum-hukum teori-M memperkenankan adanya berbagai alam semesta dengan berbagai hukum yang bisa diketahui, tergantung bagaimana kelengkungan ruang internal.

Terakhir, dalam buku ini penulis telah menjabarkan bagaimana keeteraturan pada gerak benda langit seperti matahari, bulan, dan planet-planet memberi kesan bahwa mereka diatur hukum-hukum yang tetap, bukan kehendak dewa atau iblis. Namun berangsur-angsur  hukum-hukum baru ditemukan di bidang-bidang selain astronomi, dan akibatnya muncullah gagasan determinisme sains: pasti ada set hukum lengkap, yang dengan mengetahui keadaan alam semesta pada waktu tertentu, bakal menetapkan bagaimana alam semesta akan berjalan sesudah waktu itu.

Hukum-hukum alam memberitahu kita bagaimana alam semesta berperilku, tapi tak menjawab pertanyaan-pertanyaan mengapa yang kita ajukan di awal artikel ini. Beberapa orang (termasuk Admin sebagai peresensi buku) bakal mengklaim bahwa jawaban pertanyaan-pertanyaan itu adalah keberadaan Tuhan yang memilih menciptakan alam semesta dengan cara demikian. Tapi penulis menyatakan bahwa pertanyaan-pertanyaan itu semuanya bisa dijawab dalam ranah sains saja, tanpa perlu membawa-bawa sosok ilahi.

Komentar terhadap Isi Buku Rancang Agung

Dalam buku ini, Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow menyajikan pemikiran sains terkini mengenaik alam semesta, dalam bahasa nonteknis yang cemerlang sekaligus sederhana. Buku ini adalah buku pedoman singkat, jelas, dan menyentak,yang menyajikan penemuan-penumuan yang akan mengubah pemahaman. Akan tetapi, penulis kurang menjabarkan dengan jelas beberapa teori yang ada dalam buku ini seperti teori elektrodinamika quantum, teori gaya elektrolemah, teori kromodinamika kuantum, teori supergravitasi, teori dawai, sampai teori-M. Sehingga saya merasa kesulitas untuk memahami perkembangan teori-teori tersebut.

Selain itu, penulis juga mengambil kesimpulan bahwa alam semesta tidak butuh Rabb karena semua yang di alam semesta sudah cukup diatur oleh sains. Seolah-olah penulis hendak menutup mata terhadap Siapakah Sang Pemilik aturan tersebut. Di dunia ini ada dua ayat, ayat kauniyah dan syar’iyah. Bagaimana pun, yang jelas Allah bisa dikenal melalui ayat-ayat kauniyah-Nya, yaitu makhluk-Nya yang sangat banyak dengan keajaiban penciptaan dan kesempurnaan hikmah yang terkandung di dalamnya; di samping bisa dikenal melalui ayat-ayat syar’iyah-Nya dengan seluruh kandungannya berupa keadilan, kemaslahatan, dan pencegah kerusakan. Ayat kauniyah di alam semesta inilah yang coba diingkari oleh penulis di dalam buku ini.

Kesimpulan

Buku Rancang Agung ini secara umum menjelaskan hukum alam dengan bahasa yang sederhana, cemerlang, dan singkat akan tetapi penjelasannya kurang detail.

Rating: 2/4 (Cukup)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *