Resensi Fikih Islam Lengkap: Penjelasan Hukum Islam Madzhab Syafi’i

Penjelasan hukum Islam

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan pada dirinya, maka Dia akan menjadikannya fakih dalam beragama.

-al Lu’lu’ wa al Marjan, No. 615

Identitas Buku

Judul: at Tadzhib fi Adillat Matan al Ghayat wa at Taqrib al Masyhur bi Matan Abi Syuja’ fi al Fiqh asy Syafi’i

Judul Terjemahan: Fikih Islam Lengkap: Penjelasan Hukum-Hukum Islam Madzhab Syafi’i

Penulis: Dr. Musthafa Dib al Bugha

Penerbit: Media Zikir

Kitab fikih Madzhab Syafi’i “Matan al Ghayah wa at Taqrib” atau yang lebih dikenal dengan at Taqrib memang sudah lama “menetap” di Indonesia. Kitab  at Taqrib saat ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh banyak penerbit Islam dan digunakan oleh beratus-ratus pondok pesantren di seluruh Indonesia. Kelebihan at Taqrib adalah penulisannya yang simpel dan mudah dipahami, sehingga bagi orang awam sekalipun membacanya akan cepat mengerti hukum dari permasalahan fikih yang dihadapi.

Kitab ini ditulis karena beberapa orang teman hafizhahumullah meminta al Qadhi Abu Syuja’ untuk mengerjakan sebuah kitab ringkas tentang fikih madzhab Imam Syafi’i rahimahullah yang benar-benar ringkas dan pendek sehingga mempermudah bagi pelajar dalam mempelajari dan menghafalnya. Maka dari itu, al Qadhi Abu Syuja’ menyambutnya seraya mengharapkan pahala dan taufik Allah ﷻ menuju kebenaran, dan memberinya judul “Matan al Ghayah wa at Taqrib”.

Dari sinilah Admin tertarik meresensi buku “Fikih Islam Lengkap: Penjelasan Hukum-Hukum Islam Madzhab Syafi’i” karangan Dr. Musthafa Dib al Bugha, yang merupakan penjelasan dari kitab at Taqrib. Buku ini dapat dibaca di sini. Buku ini ditulis karena kitab at Taqrib hanya menyebutkan hukum-hukum fikih tanpa menyertakan dalil-dalilnya, padahal para penuntut ilmu hari ini ingin menetapkan hukum syar’i yang disertai dengan dalil.

Berkat karunia Allah ﷻ, buku ini digarap setelah Dr. Musthafa Dib al Bugha bertanya-tanya kepada para guru beliau dalam bidang fikih khususnya dan ilmu-ilmu syari’ah umumnya. Tugas Dr. Musthafa Dib al Bugha hanyalah menyebutkan dalil-dalil naqli dari al Kitab, as Sunnah, dan atsar sahabat. Beliau menekankan kepada diri sendiri untuk melihat dalil-dalil ini pada referensi sebenarnya sebisa mungkin, khususnya kitab-kitab hadits, agar beliau bisa menukil nash-nya, menuliskan nomornya jika ada, atau halaman dan juz yang memuat hadits tersebut.

Jika mendapatkan pendapat yang lemah dalam matan, Dr. Musthafa Dib al Bugha akan menjelaskan pendapat paling benar dan paling kuat berdasarkan kitan-kitab pegangan madzhab. Beliau membiarkan tulisan aslinya berada di bagian atas lembaran kitab dan menempatkan tulisan beliau di bawahnya yang disertai dengan nomor.

Penjelasan Hukum Islam seputar Wakalah

فإن من خيركم أحسنكم قضاء

Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik pembayarannya.

-al Lu’lu’ wa al Marjan, 1032

Salah satu bab yang dibahas di dalam buku ini adalah tentang hukum wakalah. Al Qadhi Abu Syuja’ mengatakan bahwa setiap perkara yang diperbolehkan bagi seseorang untuk melaksanakannya, maka mboleh pula mewakilkan atau diwakilkan oleh orang lain. Kemudian Dr. Musthafa Dib al Bugha menjelaskan bahwa wakalah adalah permintaan perwakilan oleh seseorang kepada orang yang bisa menggantikan dirinya dalam hal-hal yang perwakilan diperbolehkan di dalamnya, misalnya dalam jual beli dan lain sebagainya.

Dr. Musthafa Dib al Bugha kemudian menjelaskan bahwa setiap perkara yang diperbolehkan bagi seseorang untuk melaksanakannya, maka boleh pula mewakilkan atau diwakilkan kepada orang lain. Di antaranya tentang pembayaran hutang, Bukhari (2182) dan Muslim (1601) meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

“Seorang laki-laki menghutangkan seekor unta dengan umur tertentu kepada Nabi ﷺ. Dia datang untuk memintanya. Beliau bersabda,

Berikanlah kepadanya!

Orang-orang mencari unta yang berumur semisalnya, tetapi tidak mendapatkan kecuali unta yang umurnya lebih tua. Beliau bersabda,

Berikanlah kepadanya!

Dia berkata,

‘Engkau telah melunasinya kepadaku. Mudah-mudahan Allah memenuhi kebutuhanmu.’

Nabi ﷺ bersabda,

فإن من خيركم أحسنكم قضاء

Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik pembayarannya.’ ” (Shahih)

Tentang pembelian, Tirmidzi (2186) meriwatkan dengan sanad shahih dari ‘Urwah al Bariqi radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

“Rasulullah ﷺ memberikan kepadaku 1 dinar untuk membeli seekor domba. Sayapun membeli 2 ekor domba dan menjual salah satunya dengan harga 1 dinar. Kemudian saya menyebutkan perkara itu dan beliau berkata,

Mudah-mudahan Allah memberkati perjanjian jual-belimu.’ ” (Shahih)

Tentang pernikahan, Bukhari (2186) dan Muslim (1425) meriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa seorang perempuan mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata,

“Wahai Rasulullah, saya menyerahkan diriku kepadamu.”

Seorang laki-laki berkata,

“Nikahkanlah dia denganku.”

Beliau bersabda,

Saya telah menikahkanmu dengan wanita ini dengan mahar hafalan al Qur’an yang engkau miliki.” (Shahih)

Al Qadhi Abu Syuja’ kemudian menjelaskan bahwa Wakalah adalah akad yang diperbolehkan. Seorang wakil tidak boleh melakukan jual beli, kecuali dengan 3 syarat:

  1. Menjual dengan harga standar.
  2. Menggunakan mata uang setempat.
  3. Tidak boleh menjual dengan mengatasnamakan dirinya dan mengakui barang yang diwakilkan atas namanya sendiri, kecuali dengan izin orang yang mewakilkan.

Komentar terhadap Isi Buku

Sebenarnya sih buku Fikih Islam Lengkap: Penjelasan Hukum Islam Madzhab Syafi’i ini diterjemahkan dengan bahasa yang mudah dipahami. Akan tetapi, masih ada kesalahan terjemah di dalamnya dan kesalahan terjemah tersebut bisa menimbulkan kesalahpahaman. Misalnya, di Bab Sunnah Wudhu disebutkan bahwa sunnah wudhu yang kelima adalah “mengusap semua bagian wajah”. Padahal seharusnya ditulis “mengusap semua bagian kepala”. Karena mengusap semua bagian wajah sudah ditulis di Bab rukun atau fardhu wudhu.

Penjelasan hukum Islam
Salah terjemahan/salah ketik di Buku Fikih Islam Lengkap

Besar kualitas buku ini pun sebenarnya tak diragukan. Dikupas oleh seorang doktor bidang syariah, Dr. Musthafa Dib al Bugha. Tugas beliau terhadap buku ini, sebagaimana yang sudah disebutkan di awal, yaitu memberi dalil dari setiap permasalahan yang disebutkan oleh al Qadhi Abu Syuja’. Akan tetapi sayangnya beliau masih beberapa kali menyebutkan dalil-dalil yang lemah tanpa menyebutkan keterangan derajat haditnya.

Hadits Dha’if dalam Fikih Islam Lengkap: Penjelasan Hukum Islam dalam Madzhab Syafi’i

Misalnya pada Bab Rukun Mandi Dr. Musthafa Dib al Bugha menyebutkan hadits,

Barangsiapa meninggalkan tempat sehelai rambut ketika mandi janabah dan tidak menuangkan air padanya, maka Allah akan melakukan ini dan ini padanya di neraka.” Hadits ini dha’if dapat dilihat dalam Dha’if Abi Dawud.

Demikian juga pada Bab  Sunnah Mandi beliau menyebutkan hadits,

Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, maka ia terputus.” Hadits ini sanadnya dha’if sekali dapat dilihat di Irwa’ al Ghalil.

Selain itu pada Bab Larangan-Larangan bagi Wanita yang Sedang Haidh dan Nifas beliau menyebutkan hadits,

Orang yang junub dan haidh tidak boleh membaca al Qur’an sedikitpun.” Hadits ini mungkar dapat dilihat di Dha’if Ibnu Majah.

Pada bab yang sama beliau menyebutkan hadits,

Saya tidak menghalalkan masjid untuk perempuan yang haidh dan orang yang junub.” Hadits ini dha’if dapat dilihat di Dha’if Abi Dawud.

Pada Bab Hukum Syarikah (Perkongsian) beliau menyebutkan hadits Qudsi,

Aku adalah pihak ke-3 dari 2 orang yang berserikat selama salah seorang di antara mereka tidak mengkhianati sahabatnya. Jika dia mengkhianatinya, maka Aku keluar di antara keduanya.” Hadits ini dha’if dapat dilihat di Dha’if Abi Dawud. Dan hadits-hadits yang lain yang sayangnya penulis tidak memberi keterangan derajat haditsnya.

Dr. Musthafa Dib al Bugha juga kurang memberikan penjelasan atau memberikan dalil pada bab-bab tertentu. Ambil contoh, pada Bab Rukun Tayamum, al Qadhi Abu Syuja’ menyebutkan bahwa rukun tayamum ada 4, yaitu:

  1. Niat
  2. Mengusap wajah
  3. Mengusap kedua tangan sampai siku
  4. Tertib

Akan tetapi Dr. Musthafa Dib al Bugha tidak menerangkannya dengan jelas. Bukankah di dalam riwayat Muslim ada hadits dari ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

“Nabi ﷺ mengutusku untuk suatu keperluan, lalu aku junub dan tak menemukan air, maka aku berguling-guling di atas tanah seperti binatang. Lalu aku menemui Nabi ﷺ, lalu menceritakan kepadanya hal tersebut, maka beliau bersabda,

Cukup bagimu menepuk dua tanganmu begini.

Lalu beliau menepuk 2 tangannya 1 kali, kemudian mengusap tangan kirinya ke tangan kanan dan kedua punggung telapak tangannya dan muka.” Hadits ini dapat dibaca di Subul as Salam di sini. Bukankah hadits ini menyebutkan telapak tangan dahulu kemudian muka?

Akan lebih baik jika Dr. Musthafa Dib al Bugha memberikan penjelasan terhadap hadits di atas dan membandingkannya dengan perkataan al Qadhi Abu Syuja’.

Selain itu di buku ini al Qadhi Abu Syuja’ juga menurut Admin perlu menambahkan beberapa poin yang mungkin belum beliau sebutkan. Misalnya di Bab Hukum Bersiwak, beliau menyebutkan bahwa bersiwak sangat disunnahkan sekali dalam 3 hal, yaitu:

  1. Ketika bau mulut berubah karena sudah terlalu lama tidak makan maupun minum dan selainnya.
  2. Ketika bangun tidur.
  3. Ketika akan mengerjakan shalat.

Dari sini timbulah pertanyaan di benak Admin, lalu bagaimanakah dengan kondisi yang lain seperti ketika memasuki rumah bukankah ada hadits dimana Syuraih berkata,

“Aku bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

‘Perbuatan apa yang Nabi mulai ketika hendak masuk rumahnya?’

Jawabnya,

‘Bersiwak.’ ” Hadits ini dapat di lihat di al Wajiz (hlm. 72) di sini.

al Qadhi Abu Syuja’ ketika membahas wudhu’ juga tidak membahas syarat sah wudhu sama sekali, padahal menurut Admin perkara tersebut termasuk penting untuk disebutkan.

Kesimpulan

Buku Fikih Islam Lengkap: Penjelasan Hukum Islam dalam Madzhab Syafi’i ini sebenarnya bahasanya mudah dipahami dan mampu membahas seluruh aspek dalam ilmu fikih. Akan tetapi, di dalamnya masih ada sedikit kesalahan terjemah, masih mengandung hadits dha’if yang digunakan sebagai dalil, penyebutan dalil yang terkadang masih kurang, dan masih terlewatnya beberapa bab yang belum dibahas.

Tapi, apakah buku ini direkomendasikan untuk dibaca? Ya, tetapi sebagai sumber referensi sekunder yang digunakan sebagai pendamping buku fikih yang lain.

Rating: 2/4 (Cukup)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *