Resensi Genom: Kisah Spesies Manusia dalam 23 Bab

Genom

“Sekarang coba kita bayangkan bahwa genom adalah sebuah buku.

Buku ini berisi 23 bab, disebut KROMOSOM.

Tiap bab berisi beberapa ribu cerita, disebut GEN.

Tiap cerita tersusun dari paragraf-paragraf, disebut EKSON, yang selang-seling dengan iklan, disebut INTRON.

Tiap paragraf terbentuk beberapa kata-kata, disebut KODON.

Tiap kata ditulis dalam huruf-huruf, disebut BASA.”

-Matt Ridley-

Identitas Buku:

Judul: Genome: The Autobiography of A Species in 23 Chapters (Genom: Kisah Spesias Manusia dalam 23 Bab)

Penulis: Matt Ridley

Penerbit: GPU Jakarta

Cetakan ketiga: Juli 2017

Tebal: 441 + xxiv hlm

Itulah gambaran singkat mengenai genom, sebuah buku yang berisi cerita mengenai rancangan tubuh makhluk hidup (dalam hal ini manusia), yang terdiri dari 23 bab yang terpisah-pisah. Bedanya bab (kromosom) dalam buku (genom) ini bentuknya berpasangan. Demikian juga dalam buku yang kita resensi kali ini, terdiri dari 23 bab. Angka 23 tidak terlalu penting, karena banyaknya kromosom dalam genom tidak memengaruhi tingkat hierarki makhluk hidup dalam sistem taksonomi. Tapi, benarkah?

David Haig, seorang spesialis biologi evolusi, mengatakan bahwa kromosom 19 -yang menjadi kromosom favoritnya- adalah kromosom yang menjadi tempat berkumpulnya gen berkelakuan buruk. Pernyataan David Haig-lah yang mendasari Matt Ridley untuk menceritakan kisah yang belum tersingkap mengenai genom manusia, yang sekarang untuk pertama kalinya dapat dibaca secara rinci, kromosom demi kromosom, dengan mengambil satu gen dari tiap kromosom untuk bercerita apa adanya.

Matt Ridley mulai membayangkan genom manusia sebagai semacam autobiografi yang tertulis dengan sendirinya –berupa sebuah catatan, dalam bahasa “genetish”, tentang semua nasib yang pernah dialaminya dan temuan-temuan yang telah diraihnya, yang kemudian menjadi simpul-simpul sejarah spesias kita serta nenek moyangnya sejak fajar pertama kehidupan di jagat raya. Sejak empat miliar tahun lampau hingga hanya beberapa ratus tahun lalu, genom telah menjadi semacam autobiografi untuk spesies kita, yang merekam kejadian-kejadian penting sesuai dengan keadaan sebenarnya.

Selanjutnya, penulis mulai mengurutkan 23 kromosom ini kemudian menghubungkan masing-masing dengan sebuah tema tentang sifat dasar manusia. Inilah yang unik dari buku ini, jumlah kromosom manusia adalah 22 pasang + kromosom XY. Alih-alih penulis menuliskan bab bukunya dengan urutan Bab. 1, Bab. 2, Bab. 3, … Bab. 22, dan Bab. XY; penulis justru memindahkan Bab. XY berada di antara Bab. 7 dan Bab. 8. Sehingga uturan babnya menjadi Bab. 1, Bab. 2, Bab. 3, … Bab. 7, Bab. X dan Y, Bab. 8, … Bab. 20, Bab. 21, dan Bab. 22. Hal ini karena penulis ingin mengurutkan ceritanya dari kromosom terbesar ke kromosom terkecil.

Awalnya para ilmuwan mengira bahwa jumlah kromosom pada manusia itu 24 pasang. Baru pada tahun 1955, kromosom dihitung lagi oleh orang Indonesia, akhirnya kebenaran mulai terungkap. Ternyata didapatkan hitungan bahwa kromosom itu berjumlah 23 pasang.

Kemudian, Matt Ridley memberikan gambaran sekilas yang terpadu tentang keseluruhan; sebuah perjalanan bertahap ke beberapa tempat menarik dalam genom serta apa yang mereka ceritakan tentang kita sendiri. Penulis kemudian menjelaskan tentang apa yang telah ditemukan oleh Proyek Genom Manusia di kromosom tersebut. Inilah yang ingin penulis ceritakan melalui buku yang sedang kita bahas.

Kepribadian

“Karakter seseorang adalah nasib dan peruntungannya.”

-Heraklitus-

Salah satu yang dibahas oleh penulis yaitu kepribadian di Bab. 11. Bicara soal ketegangan antara karakteristik universal manusia dan ciri-ciri khusus individu pada hakikatnya sama dengan bicara soal genom. Guna mencari gen-gen yang memengaruhi kepribadian, tiba saatnya bagi penulis untuk menjelaskan tentang bahan-bahan kimia untuk pikiran. Di lengan pendek kromosom 11, ada sebuah gen bernama D4DR.

Gen ini merupakan resep untuk satu protein yang disebut reseptor dopamin, dan gen ini teraktifkan dalam sel-sel bagian-bagian tertentu otak tetapi tidak pada yang lain. Kekurangan dopamin dalam otak menyebabkan kepribadian yang enggan membuat keputusan dan dingin, dalam bentuk ekstrem, kasus ini dikenal sebagai penyakit Parkinson. Sebaliknya, kelebihan dopamin dalam otak membuatnya sangat ingin tahu dan bersemangat berpetualang. Pada manusia, kelebihan dopamin bisa langsung menyebabkan skizofrenia.

Penjelasan dalam buku ini sangat luar biasa. Ada banyak hal yang baru saya ketahui setelah membaca buku ini. Dan menurut saya yang paling menarik adalah pada Bab 20 Politik dimana Matt Ridley menjelaskan pelan-pelan tentang penyakit sapi gila, biri-biri gila, mink gila, tikus gila, dan manusia “gila” yang penyebabnya sangat misterius. Saya serasa membaca novel thriller atau cerita misteri ketika membaca bab tersebut. Dan ternyata penyebabnya adalah … (ups spoiler) … gak jadi deh.

Kekurangan Buku Genom

Matt Ridley dalam buku ini langsung membahas hasil dari Proyek Genom Manusia tanpa menjelaskan bagaimana dan mengapa ada proyek tersebut. Hasilnya, istilah-istilah teknis yang rumit muncul di buku ini tanpa mendefinisikan arti dari istilah tersebut. Apalagi, beberapa istilah teknis tersebut mengalami salah ketik. Coba kita lihat di hlm. 207, penulis berkata,

“… Di lengan pendek kromosom 11, ada sebuah gen bernama D4DK Gen ini merupakan resep untuk satu protein yang disebut reseptor dopamin, …”

Di paragraf berikutnya, penulis berkata,

“Kehadiran sebuah gen DJDK yang aktif dalam satu neuron langsung engenali neuron itu sebagai anggota salah satu rangkaian reaksi biokimia yang dimediasi oleh dopamin dalam otak.”

Jadi, gen yang dimaksud namanya apa? D4DK atau DJDK? Ternyata bukan dua-duanya. Yang benar adalah D4DR. Seandainya pembaca tidak tahu nama asli gen tersebut, bagaimana pembaca tahu istilah mana yang benar. Dan sayangnya, kesalahan ini terulang lagi di hlm. 211 dengan nama DJDR. Mbuhlah, setelah saya paksa lanjut kesalahan ketik ini terulang lagi misalnya dalam nama ilmiah makhluk hidup. Lah emangnya semua pembaca hafal nama-nama ilmiah hewan/tumbuhan sehingga merasa nyaman saja dengan kesalahan ketik tersebut.

Selain itu, Matt Ridley mengakui sendiri bahwa bukunya bisa dikatakan ketinggalan zaman. Hal ini karena kepustakaan genetika dan biologi molekuler benar-benar luas. Setiap kali diterbtkan, tiap buku, tiap artikel, atau tiap makalah memerlukan pembaruan atau pembetulan. Itu karena selalu ada pengetahuan baru ang menuntut disertakan ke dalamnya, padahal naskah sudah terlanjur naik ke mesin cetak (hal yang sama berlaku untuk buku ini). Apalagi, buku ini ditulis oleh Matt Ridley pada tahun 1999 dan diterbitkan oleh Gramedia tahun 2017 pada cetakan ke-3. Walaupun begitu, menurut saya buku ini tetap menarik untuk dibaca sebagai wawasan sejarah.

Kesimpulan

Genom adalah buku yang luar biasa dan memesona walaupun sulit dipahami, banyak saltik, dan tidak up to date.

Rating: ¾ (Bagus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *