Resensi Mental Juara: Faktor Pendukung Muslim Juara

Identitas Buku Mental Juara: 50 Faktor Pendukung Mentalitas Muslim

Judul Terjemah: Mental Juara: 50 Faktor Pendukung Mentalitas Muslim Juara

Judul Asli: al Himmah al ‘Aliyah: Mu’awwiqatuha wa Muqawwimatuha

Penulis: Dr. Muhammad Ibrahim al Hamad

Penerbit Terjemah: Pustaka Imam asy Syafi’i

Cetakan: Pertama Oktober 2014

Tebal: xvi + 448 hlm

Demi Allah, jika dia (Abu Bakar ash Shiddiq) menugaskanku memindahkan sebuah gunung, niscaya hal itu tidak lebih berat bagiku daripada perintahnya kepadaku untuk mengumpulkan al Qur’an.

Disebutkan dalam Shahih al Bukhari, Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu mendapat amanah dari Khalifah Abu Bakar ash Shiddiq untuk mengumpulkan al Qur’an, dia kemudian mengatakan bahwa tugas memindahkan gunung itu lebih ringan daripada tugas mengumpulkan al Qur’an, sebagaimana yang tertera pada kutipan di atas. Meskipun demikian, sahabat ini mempu melaksanakannya dengan baik.

Mengapa Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu bisa melaksanakannya dengan baik? Karena Islam adalah agama yang menganjurkan umatnya agar memiliki mentalitas yang tinggi dalam menjalani kehidupan. Pada permulaan dakwah Islam, Nabi diseru untuk bangkit dan bergegas menyampaikan risalah-Nya kepada manusia; Allah ﷻ berfirman:

Wahai orang yang berkemul (berselimut)! Bangunlah, lalu berilah peringatan!

Turunnya wahyu tersebut mengisyaratkan bahwa tidak ada lagi waktu untuk beristirahat, karena tugas berat berupa jihad demi menegakkan panji-panji agama ini telah menanti di hadapan beliau untuk segera dilaksanakan. Itulah sekelumit potret kehidupan generasi pilihan-Nya, yang dipenuhi orang-orang muknin bermentalitas tinggi dan bermental baja. Sejarah menyaksikan bahwa mentalitas yang tinggi dapat mengangkat suatu kaum dari keterpurukan, mengganti ketertinggalan dengan keunggulan, mengubah kehinaan menjadi kemuliaan, menukar ketertindasan dengan kemerdekaan, serta memusnahkan kepatuhan buta dan menggantikannya dengan keberanian yang beradab.

Memiliki cita-cita yang tinggi adalah barometer karakter yang mulia, sifat yang terpuji, akhlak yang agung, dan etika yang luhur. Cita-cita yang tinggi selalu terkait dengan kepribadian pemiliknya, memacu pemiliknya dengan cambuk kritikan dan teguran, serta memeringatkan pemiliknya dari tempat-tempat yang dipenuhi kenistaan, dari mengejar hal-hal yang rendah, dan dari meninggalkan apa saja yang bisa menghalanginya untuk mencapai keutamaan.

Akan tetapi, saat ini kaum muslimin sedang berada dalam keterpurukan akibat tertimpa musibah akut berupa mentalitas yang rendah. Fenomena memprihatinkan itulah yang menjadi motivasi utama penulis buku ini, Muhammad bin Ibrahim al Hamad, untuk mengingatkan kita terhadap urgensi mentalitas yang tinggi. Maka dikemukakanlah bahasan tersebut secara ilmiah populer, terdiri atas 5 bab pokok: bab pendahuluan, 3 bab pembahasan, dan bab penutup.

Bab pertama menjelaskan definisi istilah-istilah yang terkait mentalitas yang tinggi, sebagai pengetahuan dasar sebelum pembaca diajak kepada pemaparannya. Bab ke-2 dan ke-3, yang menjadi inti pembahasan, membahas perihal faktor-faktor yang menghalangi dan mendukung tercapainya mentalitas yang tinggi.

Salah Satu yang Menjadi Faktor Pendukung Menghormati Diri Sendiri

Salah satu faktor pendukung dalam meraih mentalitas yang tinggi menurut Dr. Muhammad bin Ibrahim al Hamad adalah menghormati diri sendiri. Menghormati diri sendiri berarti mengangkatnya dari tempat-tempat kehinaan. Orang yang menghormati diri sendiri tidak akan mencoreng wajahnya dan tidak akan menodai kehormatannya dengan hal-hal yang dapat mencemari kebaikan pribadinya. Menghormati diri sendiri termasuk faktor yang dapat membesarkan mentalitas, sementara mentalitas yang besar akan menghindarkan seseorang dari sifat menjilat dan bermuka dua.

Sikap menghormati diri sendiri akan membuat pelakunya berwibawa dan berkharisma di mata umat manusia, serta menimbulkan perasaan segan dan hormat terhadapnya di hati mereka. Sikap menghormati diri sendiri juga memiliki pengaruh yang baik terhadap masyarakat. Jika menghormati diri sendiri digolongkan ke dalam sifat yang indah dan mengagumkan, maka ia akan lebih indah dan mengagumkan lagi jika dimiliki seorang ulama.

Maka alangkah mulia orang yang derajatnya diangkat oleh ilmu, lalu dia pun mengangkat kemuliaan ilmu dengan menghormati pemiliknya.Ketika menghadapi pengusung kebathilan, dia pun berdiri sangat dekat dengan mereka, layaknya kematian yang berada di antara kerongkongan dan urat leher manusia. Orang yang berilmu tentunya lebih patut untuk memiliki jiwa yang mulia dan bersih serta hati yang suci dan murni, yakni agar tidak ada cela yang mungkin akan menghalanginya dalam memberikan petunjuk kepada orang lain.

Sikap Penghormatan Terhadap Diri Sendiri

Intinya, penghormatan terhadap diri sendiri ditentukan oleh sejauh mana pengenalan seseorang terhadap nilai atau kualitas dirinya. Dalam pengertian yang lebih mendalam, penghormatan terhadap diri sendiri bermakna Anda menghormati diri sendiri tanpa merendahkan orang lain. Ada dua sikap yang harus Anda terapkan:

  1. Jika melihat seseorang yang kedudukan atau jabatannya lebih tinggi daripada Anda, janganlah biarkan dia merendahkan Anda sedikit pun, serta janganlah biarkan dia melewati batasan-batasan haknya walaupun sehelai rambut.
  2. Jika melihat orang yang lebih rendah daripada Anda, jangan langgar hak Anda.

Pelengkap Inti Pembahasan

Kebaikan tidak pernah dianggap mustahil, selama kita berharap hanya kepada-Nya

Dan jiwa tidak akan berputus asa, selama ada keimanan di dalam hati.

-Dr. Muhammad bin Ibrahim al Hamad

Bab ke-4, atau pelengkap inti pembahasan, khusus berisi pemaparan biografi 3 orang muslim teladan yang terbukti mampu menerapkan konsep mentalitas tinggi dalam kehidupan mereka. Bab ke-5, di sinilah disimpulkan apa-apa yang telah dijabarkan, juga tidak lupa pula disertakan doa dan harapan pribadi penulis yang ditujukan kepada segenap pembaca: kaum muslimin pada umumnya maupun kaum cendekiawan muslim.

Setelah memanjatkan doa tersebut, Dr. Muhammad bin Ibrahim al Hamad pun berharap kepada para ulama kaum muslimin, para dai yang shalih, para pemimpin dan jajarannya yang memiliki “kecemburuan” agama, para pemuda yang baik dan mulia agar mau berupaya mengembalikan kemuliaan dan kejayaan yang pernah dimiliki umat ini.

Komentar terhadap Isi Buku

Sesuai dengan testimoni dari Syaikh ‘Abd al Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah, buku ini adalah tulisan yang bermutu dan bermanfaat, yang dapat menjadi faktor pendukung seseorang untuk melakukan berbagai kebajikan dan menahan diri dari melakukan berbagai keburukan, serta mendorong orang-orang supaya tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, juga saling berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran.

Akan tetapi, Admin ketika membaca buku ini, seringkali diksi yang digunakan pada syair-syair di buku ini terasa kurang pas. Syair-syair yang ada di dalam buku ini seperti terasa langsung diterjemahkan dari bahasa aslinya. Menurut Admin, alangkah baiknya syair-syairnya disadur dan disesuaikan agar rimanya lebih enak dan kata-katanya lebih menyentuh sehingga lebih mudah masuk ke hati karena syairnya lebih puitis.

Meski demikian, hal itu tidak mengurangi nilai buku ini. Buku ini sangat bagus. Admin sangat menyarankan pembaca agar membaca buku ini terutama bagi para pemuda, penuntut ilmu, atau bagi mereka yang sedang terpuruk.

Rating: 4/4 (Sangat Bagus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *