Resensi Evolusi Reproduksi Manusia

Identitas Buku Evolusi Reproduksi Manusia

Judul: Evolusi Reproduksi Manusia

Judul Asli: Why is Sex Fun?: The Evolution of Human Sexuality

Penulis: Jared Diamond

Penerbit: KPG, Jakarta

Cetakan: Kedua, April 2019

Tebal: xi + 209 hlm

Manusia-manusia menjijikkan itu bercinta setiap hari selama sebulan penuh! Barbara mengajak bercinta meskipun ia yakin benar bahwa ia sedang tidak subur -seperti ketika menstruasinya baru saja selesai. Setiap saat John ingin sekali berhubungan seks, tanpa peduli apakah usahanya itu akan menghasilkan anak atau tidak. Tapi, kalau Anda ingin mendengar yang sangat menjijikkan -Barbara dan John tetap saja bercinta meskipun Barbara sedang hamil! Itu sama buruknya dengan saat-saat ketika orang tua John datang berkunjung. Saya bisa mendengar ayah-ibu John bercinta juga, meskipun ibu John sudah mengalami apa yang mereka sebut menopause beberapa tahun lalu. Sekarang ibu John tidak bisa beranak lagi, tetapi ia tetap menginginkan seks, dan ayah John menurutinya. Benar-benar buang-buang tenaga! Dan inilah yang paling aneh: Barbara dan John, dan orang tua John, menutup pintu kamar mereka dan bercinta di tempat tertutup, bukannya di depan teman-temannya seperti layaknya anjing yang punya harga diri!”

-Si Anjing

Urusan seks begitu menyita perhatian kita. Dan buku ini merupakan penjelasan sementara mengenai bagaimana seksualitas manusia menjadi seperti sekarang ini. Memang menarik memahami bagaimana seksualitas kita berevolusi; bukan hanya karena proses itu sendiri sungguh memikat, melainkan juga karena proses itu penting untuk memahami ciri-ciri lain yang hanya ada pada manusia.

Di antara berbagai hal yang tak lazim pada seksualitas manusia yang Jared Diamond bahas terdapatlah menopause perempuan, peran laki-laki dalam masyarakat manusia, melakukan hubungan seks di tempat tertutup, sering bercinta hanya untuk kesenangan dan bukan untuk mendapatkan keturunan, serta membesarnya payudara perempuan bahkan sebelum masa menyusui. Buku ini tidak akan mengajari Anda posisi-posisi baru untuk menikmati hubungan seks ataupun membantu Anda mengurangi rasa tidak nyaman akibat kram ketika menstruasi atau menopause. Tapi buku ini mungkin dapat membantu Anda untuk mengerti mengapa tubuh Anda terasa sebagaimana yang Anda rasa, dan mengapa kekasih Anda bertingkah laku sebagaimana sekarang.

Versi awal beberapa bab buku ini pernah muncul sebagai artikel yang dimuat dalam majalah Discover dan Natural History.

Bukan Waktunya Bercinta

“Sayang! Sekarang benar-benar saat yang tepat!”

-Si Perempuan

Salah satu hal yang dibahas oleh Jared Diamond dalam Evolusi Reproduksi Manusia adalah tentang tersembunyinya tanda-tanda ovulasi pada manusia. Karena kenyataannya, kita manusialah yang menjadi anggota kelompok minoritas dalam dunia hewan, karena ovulasinya nyaris tak terdeteksi. Entah bagaimana caranya, ovulasi tersembunyi dan kesediaan seksual terus-menerus berevolusi untuk memungkinkan kombinasi unik kita yaitu pernikahan, pengurusan anak bersama, dan godaan perzinahan. Bagaimana semua itu menjadi seperti sekarang keadaannya sekarang?

Kesadaran para ilmuwan yang terlambat akan paradoks-paradoks tersebut telah menghasilkan berbagai teori yang bersaing, yang masing-masing cenderung mencerminkan jenis kelamin pencetusnya. Contohnya, ada teori prostitusi yang diajukan oleh ilmuwan laki-laki: perempuan berevolusi untuk mempertukarkan seks dengan bayaran daging dari para pemburu laki-laki. Ada pula teori gen unggul dari perselingkuhan yang diajukan oleh ilmuwan laki-laki lain, yang menalar bahwa perempuan purba yang tak beruntung karena telah dinikahkan oleh klannya dengan suami yang payah dapat mempergunakan kesediaan seksual terus-menerusnya untuk menarik (dan dihamili di luar nikah oleh) laki-laki purba tetangganya dengan gen-gen yang unggul.

Lalu, ada pula teori anti kontraseptif yang diajukan oleh ilmuwan perempuan, yang sangat menyadari bahwa kelahiran anak sangat menyakitkan dan berbahaya pada spesies manusia karena besarnya ukuran bayi manusia yang baru lahir relatif terhadap ibunya jika dibandingkan dengan rasio yang sama di kera kerabat kita. Dari seabrek hipotesis untuk menjelaskan ovulasi tersembunyi, dua di antaranya, yang akan Jared Diamond rujuk sebagai teori “ayah di rumah” dan teori “banyak ayah“, telah bertahan sebagai yang paling masuk akal.

Teori Ayah di Rumah

Sekarang kita lihat dulu teori ayah di rumah, yang dikembangkan oleh dua ahli biologi, Richard Alexander dan Katharine Noonan dari University of Michigan. Untuk mengerti teori mereka, bayangkan bagaimana jadinya kehidupan pernikahan jika perempuan benarbenar mengumumkan ovulasi mereka, seperti babun betina dengan bokong merah terang. Pada hari itu suami akan tinggal di rumah. Pada semua hari-hari lain, ia akan pergi mencari perempuan-perempuan lain yang bokongnya berwarna merah terang dan tidak dijaga, sehingga ia dapat membuahi mereka juga dan mewariskan lebih banyak gennya.

Bagi manusia, hasil perkawinan dengan ovulasi yang diumumkan seperti itu kiranya mengerikan. Sekarang mari bayangkan skenario kebalikannya, jika suami tidak tahu mengenai hari-hari subur istrinya. Dalam skenario kebalikan ini, laki-laki hanya punya sedikit alasan untuk keluyuran, karena tidak dapat mengidentifikasi yang mana di antara istri-istri tetangganya yang sedang subur. Intinya, Alexander dan Noonan berpendapat bahwa kejanggalan fisiologi perempuan memaksa para suami untuk tetap tinggal di rumah (setidaknya, lebih sering daripada yang suami kehendaki).

Teori Banyak Ayah

Yang bersaing dengan pandangan tersebut adalah teori banyak ayah yang dikembangkan oleh ahli antropologi Sarah Hrdy dari University of California at Davis. Secara alami, infantisida membuat kita ngeri dan bertanya-tanya mengapa hewan (dan dulu manusia) sering melakukannya. Sebagai satu penyebab utama kematian anak, infantisida merupakan masalah evolusioner yang serius bagi para induk betina hewan, yang dengan demikian kehilangan investasi genetis mereka dalam keturunan mereka yang terbunuh.

Lantas, umpamakan betina punya ovulasi tersembunyi dan kesediaan seksual terus-menerus. Si betina dapat memanfaatkan kelebihan-kelebihan itu untuk bersenggama dengan banyak pejantan -bahkan jika ia harus melakukannya diam-diam, saat pasangannya tidak melihat. Jika belakangan satu pejantan berhasil mengusir pasangan si ibu dan menguasainya, ia tidak membunuh anak si ibu sebab bisa jadi itu adalah anaknya sendiri. Sebagai contoh tentang seberapa luasnya kemungkinan betina memakai ovulasi tersembunyi untuk mengacaukan paternitas, pertimbangkan monyet Afrika, vervet (Cercopithecus patas), yang akrab bagi siapapun yang pernah mengunjungi cagar alam di Afrika Timur. Ternyata betina mulai bersenggama lama sebelum mereka berovulasi, terus melakukannya setelah mereka berovulasi, dan baru mencapai puncak kesediaan seksual mereka setelah paro pertama kehamilan.

Pada saat itu perut si betina belum lagi kelihatan membesar. Para pejantan yang tertipu tidak tahu mereka menyia-nyiakan usaha mereka. Dengan demikian, melalui ovulasi tersembunyi vervet betina meyakinkan adanya netralitas yang baik di antara hampir seluruh pejantan yang berpotensi menjadi pembunuh di lingkungan mereka. Pendek kata, Hrdy menganggap ovulasi tersembunyi sebagai suatu adaptasi evolusioner betina untuk memperkecil ancaman besar bagi keselamatan keturunan mereka dari pejantan-pejantan dewasa.

Sekarang, kita mungkin mulai bertanya-tanya tentang kerumitan potensial pada teori ayah di rumah maupun teori banyak ayah. Mengapa ovulasi manusia disembunyikan pula dari perempuan, jika yang diperlukan oleh kedua teori adalah perempuan menyembunyikan ovulasi mereka dari laki-laki? Jawaban bagi keberatan itu seharusnya jelas: akan lebih sulit bagi seorang perempuan untuk berpura-pura bersedia secara seksual dengan meyakinkan jika ia merasa dirinya sedang tidak bergairah dan tahu ia sedang tidak subur.

Tidak diragukan bahwa teori banyak ayah itu masuk akal untuk spesies-spesies hewan (dan mungkin masyarakat-masyarakat tradisional manusia) yang mengalami masalah besar karena infantisida. Oleh karena itu, tampaknya mustahil bahwa perlindungan anak dari infantisida merupakan pendorong kesediaan seksual terus-menerus pada perempuan sekarang. Lantas bagaimana cara kita mengevaluasi kedua teori yang bersaing itu?

Menurut Jared Diamond, teori ayah di rumah lebih sesuai karena monogami tidak pernah berevolusi pada spesies dengan ovulasi terang-terangan. Hal ini dapat dilihat pada gambar.

Evolusi reproduksi manusia
Alur Evolusi Reproduksi Manusia

Komentar terhadap Isi Buku

Dalam buku Evolusi Reproduksi Manusia ini diperlihatkan betapa tak biasanya reproduksi manusia (bahkan ganjil jika dibandingkan dengan berbagai hewan). Jared Diamond menjawabnya dengan wawasan biologi dan evolusioner. Buku ini mengambil pendekatan yang agak humoris menurut Admin saat menjelaskan pandangannya terhadap evolusi kehidupan reproduksi manusia. Sebut saja ketika Jared Diamond memaparkan isi pikiran anjing kala menyaksikan majikannya berhubungan seksual.

Akan tetapi, buku ini belum bisa memenuhi ekspektasi Admin. Karena pertama kali melihat judulnya Admin berpikir bahwa buku ini akan menjelaskan sistem reproduksi manusia purba dan bagaimana sistem reproduksi tersebut berevolusi ketika manusia menjadi manusia modern. Padahal Admin mengharapkan buku ini akan menjelaskan bagaimana Meganthropus berhubungan seksual, apa bentuk dzakar Neanderthal , serta bagaimana siklus ovulasi Phitecanthropus. Sayang sekali hal itu tidak dibahas di buku ini.

Meski begitu, Admin sangat merekomendasikan buku Evolusi Reproduksi Manusia ini terutama bagi mahasiswa biologi. Kalau pembaca punya anjing dan ingin menjelaskan mengapa kehidupan seksnya aneh, pembaca bisa menjelaskan alasannya lewat buku ini. Biar anjingnya open minded.

Rating: 3/4 (Bagus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *