Resensi 102 Kiat Agar Semangat Belajar Agama Membara

Agar semangat belajar

Sesungguhnya ulama adalah pewaris Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak meninggalkan dinar atau dirham. Mereka hanya meninggalkan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya maka berarti dia mengambil bagian yang banyak.

-Shahih Sunan Abi Dawud

Identitas Buku

Judul Asli: Kaifa Tatahammas li Thalab al ‘Ilmi asy Syar’i

Judul Terjemah: 102 Kiat Agar Semangat Belajar Agama Membara

Penulis: Abu al Qa’qa’ Muhammad bin Shalih Alu ‘Abdillah

Penerbit: Pustaka eLBA Surabaya

Cetakan Kelima: Juni 2016

Tebal: 284 hlm

Ulama salaf dulu, dengan segala keterbatasan fasilitas mampu melahirkan karya-karya besar dengan jumlah yang luar biasa. Hal itu tentu menunjukkan produktifitas yang luar biasa. Sedangkan kita yang saat ini hidup dengan kelengkapan fasilitas dan dukungan teknologi canggih, seringkali tidak bisa menulis 1 halamanpun dalam sehari bahkan berhari-hari. Mengapa demikian? Inilah pertanyaan penting yang harus dijawab sebagai bahan perenungan bagi kita semua.

  1. Produktifitas ulama dulu berasal dari kecintaan mereka terhadap ilmu.
  2. Produktifitas ulama dulu adalah hasil dari keikhlasan dalam menuntut ilmu.
  3. Rasa takut kepada Allah ﷻ.

Mereka tidak sudi menukar ilmu dengan kemegahan dunia, harta, maupun kedudukan. Semangat dan etos ilmiah seperti itu yang jarang dimiliki oleh kita sebagai pencari ilmu yang hidup di zaman ini. Oleh karena itu, Kaifa Tatahammas li Thalab al ‘Ilmi asy Syar’i karya Syaikh Abu al Qa’qa’ Muhammad bin Shalih yang edisi Indonesianya diterjemahkan oleh ust. Nurul Mukhlisin Asyrafuddin dengan judul 102 Kiat Agar Semangat Belajar Agama Membara yang sedang kita resensi ini memuat tentang etika dan tuntunan bagi para pencari ilmu.

Buku yang dalam bahasa aslinya berjudul Kaifa Tatahammas li Thalab al ‘Ilmi asy Syar’i ini memuat 102 cara para salafush shalih (ulama terdahulu) dalam belajar. Ketika pertama kali membaca buku ini kita akan menganggap semua itu hanya sebatas cerita nostalgia semata, yang tidak bisa diwujudkan lagi di kehidupan saat ini. Bagitu banyak kisah teladan yang disbutkan penulis di dalam buku ini untuk memotivasi kita dalam menuntut ilmu. Tapi kenapa kita perlu membicarakan tema ini? Kenapa kita perlu berbicara tentang motivasi belajar ilmu syar’i?

Menurut penulis, kita perlu berbicara tentang motivasi belajar ilmu syar’i karena kebangkitan Islam, apapun bentuknya, jika tidak berdiri di atas landasan ilmu syar’i yang benar dan bersumber dari al Qur’an, Sunnah, dan manhaj salafush shalih, maka akan berakibat kehancuran dan kemusnahan. Kita berlu berbicara tentang motivasi belajar ilmu syar’i. Karena kita berada di zaman yang semangatnya sudah mati, maka keinginan belajar ilmu syar’i semakin melemah dan kemauan untuk belajar dan mengajarinya semakin menurun.

Kita berlu berbicara tentang motivasi belajar ilmu syar’i. Karena ilmu ini termasuk bagian dari syari’at Allah. Kita berlu berbicara tentang motivasi belajar ilmu syar’i. Karena pemuda-pemuda masa kini sekarang sudah terjerat dakwah penyesatan. Kita berlu berbicara tentang motivasi belajar ilmu syar’i. Karena diserukan oleh dalil-dalil al Qur’an dan Sunnah. Kita berlu berbicara tentang motivasi belajar ilmu syar’i. Karena para ulama yang rabbaniyyin adalah pemimpin umat dan panglimanya.

Kita berlu berbicara tentang motivasi belajar ilmu syar’i. Karena banyak pemuda kebangkitan Islam yang mulia ini memiliki semangat dan motivasi beramal untuk tujuan agama ini. Tapi jangan sampai perasaan yang gersang dalam ilmu syar’i menjadi penggerak dan penilai dari segenap gerakan dan kegiatannya. Penulis tutup pernyataannya dengan 2 peringatan:

  1. Sesungguhnya ilmu syar’i yang harus kita pelajari dan raih bukan semua ilmu syar’i, tetapi yang memiliki kriteri khusus, di antaranya:
    • Ilmu syar’i yang benar, diambil dari al Qur’an, Sunnah, dan manhaj pendahulu kita yang benar (Salafush Shalih).
    • Ilmu syar’i yang harus kita raih adalah ilmu sayr’i yang mengantarkan pemiliknya untuk taat kepada Allah, merasa diawasi oleh-Nya, takut kepada-Nya, dalam keadaan ramai maupun sepi.
  2. Bahwa motivasi dan anjuran Penulis untuk menuntut ilmu syar’i dan meraihnya, tidak berarti kita melalaikan sektor lainnya yang menjadi kesempurnaan kepribadian kita sebagai muslim.

Kemudian penulis mulai menyebutkan kiat-kiat agar semangat belajar agama membara.

Meninggalkan Dosa dan Kemaksiatan Agar Semangat Belajar

Saya menganggap orang yang melupakan ilmu yang telah dia ketahui, karena dosa yang dia lakukan.

-‘Abdullah bin Mas’ud

Menurut penulis salah satu yang dapat menambah semangat dalam belajar agama adalah meninggalkan dosa dan kemaksiatan. Dosa dan kemaksiatan adalah sumber dan penyebab dari setiap kejahatan dan musibah yang terjadi di dunia, baik pada setiap pribadi maupun umat. Dia antara akibat dosa dan kemaksiatan adalah seseorang terhalang dari menuntut ilmu syar’i, serta mudah lupa akan ilmu yang telah dihafalnya.

Komentar terhadap Isi Buku

Buku ini adalah kumpulan 102 motivasi yang panas membara, meledak-ledak, dan menggelegar untuk membakar semangat Anda belajar ilmu syar’i (agama). Siapapun Anda, dan berapapun usia Anda, jika semangat belajar Anda masih menyala, maka buku ini adalah buku yang sangat tepat untuk membesarkan nyala api semangat Anda untuk belajar ilmu agama. Jika semangat belajar Anda sudah mati, maka bacalah buku ini! Anda –insyaallah- mendapati semangat belajar itu akan menyala kembali.

Jika Anda kadang-kadang malas untuk belajar agama –baik dengan menghadiri kajian, membaca buku, bertanya, dan sebagainya- bacalah buku ini! Anda akan dibuat malu oleh semangat pengorbanan para ulama salaf yang tidak mengenal waktu ketika belajar ilmu syar’i. Kisah-kisah menakjubkan yang mungkin oleh sebagian orang dianggap dongeng, padahal benar-benar terjadi dan suatu kenyataan sejarah.

Akan tetapi, bukan berarti buku ini lepas dari kekurangan. Secara umum penulis ketika menyebutkan hadits maka akan menambahkan derajat haditnya. Tetapi ada 1 hadits yang tidak diberi keterangan derajat haditsnya, padahal hadits tersebut lemah.

Pada Kiat No. 35 Meninggalkan Dosa dan Kemaksiatan penulis menyebutkan hadits,

Sesungguhnya seorang hamba, terhalang rizkinya karena dosa yang dia lakukan.” Hadits ini dha’if dapat dilihat Dha’if al Jami’ atau Dha’if at Targhib. Selebihnya hadits yang disebutkan penulis sudah diberi keterangan.

Agar semangat belajar

Kesimpulan

Buku ini sangat bagus, jika nurani Anda masih hidup, semangat kebaikan Anda masih menyala, kecintaan Anda kepada ilmu agama masih mekar, maka –insyaallah- setelah membaca buku ini Anda akan tergila-gila belajar ilmu syar’i.

Rating: 4/4 (Sangat Bagus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *